Menyeberang ke dimensi lain - sebuah kisah tentang desa tak terlihat

Indonesia bukanlah sekadar negara biasa. Siapa pun yang pernah menginjakkan kaki di salah satu dari 18 ribu pulau di kepulauan ini akan mengerti. Mustahil bagi kita untuk menggambarkan sejarah, tradisi atau mitologi negara ini dalam satu narasi yang utuh. Hal itu memang tidak bisa dilakukan karena ia seluas dan sejauh dimensi geografisnya (segala sesuatu terasa sangat jauh secara abstrak). Kita tidak bisa berbicara tentang satu masyarakat Indonesia yang tunggal dan terpadu, yang berbicara dalam satu bahasa. Meskipun (Indonesia memang dihuni terutama oleh masyarakat Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa administratif), menganggapnya sebagai satu kesatuan adalah sebuah penyederhanaan yang sangat besar. Intinya, Indonesia seolah meloloskan diri tepat saat seseorang mencoba memahaminya sebagai satu kesatuan. Bahkan, ia tidak bisa dikatakan kompak secara geografis, melainkan terbentang luas, sama seperti rasa waktu di antara orang Indonesia yang juga melentur melintasi tiga zona waktu(jam keret).

Tentu saja telah ada upaya untuk melakukan “unifikasi” dalam arti luas, yaitu pada tahun 1945, ketika konsep Pancasila diperkenalkan: lima prinsip konstitusional yang mengatur kehidupan ratusan kelompok etnis sebagai landasan bersama bagi semua. Prinsip-prinsip tersebut mencakup ketuhanan, kemanusiaan, persatuan nasional, demokrasi berdasarkan musyawarah mufakat, dan keadilan sosial. Pancasila berfungsi sebagai elemen pemersatu yang, memungkinkan kelompok etnis dan agama yang beragam untuk hidup berdampingan dalam satu sistem politik. Dan dalam beberapa hal, upaya ini berhasil., Namun, saya tetap percaya bahwa negara dengan lebih dari tujuh ratus bahasa tidak dapat diceritakan dengan satu cara saja. Selain itu, terdapat pula sinkretisme agama yang kuat, yang akan saya bahas dalam artikel terpisah.

Sejarah Indonesia bukan hanya kisah tentang perang berdarah, berabad-abad penjajahan, atau pergolakan sosial yang penuh gejolak. Di bawah permukaannya, Indonesia menyimpan spektrum cerita yang luar biasa kaya tentang fenomena supranatural, dunia tak kasat mata, dan hubungan misterius antara dunia manusia dan alam. Negara ini tampil sebagai ruang di mana hal-hal supranatural tidak berada di pinggiran pengalaman, melainkan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari dan turut membentuk maknanya. Fenomena seperti rekaman viral tentang dugaan penampakan roh, ekspedisi mistis atau tindakan simbolis pocong patrol selama pandemi menunjukkan bahwa batas antara gaib dan nyata tetap ambigu. Dalam konteks ini, desa-desa tak kasatmata seperti Besari yang ditafsirkan ulang sebagai ruang spiritual, yang semakin memperkuat keyakinan akan kehadiran kekuatan non-material yang tertanam dalam lanskap Indonesia.

Saya akan mendekati fenomena ini dengan penuh kehati-hatian. Peristiwa yang terjadi di persimpangan dunia-dunia paralel merupakan bagian dari realitas sehari-hari orang Indonesia dan membentuk cara mereka memahami keberadaan. Simbolisme yang kuat dan mitos kosmologis sering kali menentukan arah hidup dalam suatu kelompok sosial. Artikel ini adalah kisah tentang hilangnya desa Besari, yang menurut kepercayaan dan narasi lokal kini berada di alam gaib, sebuah dunia yang sejajar dengan dunia kita.

Desa misterius – Besari

Desa Besari adalah salah satu tempat paling misterius di Lombok Utara. Desa ini memang tidak lagi terdaftar sebagai unit administratif resmi, namun menurut cerita warga lokal, dahulu Desa Besari terletak di sekitar wilayah Desa Genggelang. Menurut Amir Kholid, penjaga tradisi Genggelang dan pengelola museum lokal, Besari merupakan bagian dari sebuah kerajaan kuno (kedatuan) yang dipimpin oleh Datu Besari. Hilangnya desa ini diperkirakan terjadi pada abad ke-17, saat kerajaan Karangasem dari Bali menaklukkan Mataram, ibu kota Lombok saat ini, dan mendirikan pusat kekuasaannya di Cakranegara. Raja Bali, yang melihat kemajuan Besari terutama dalam kemampuan pertanian penduduknya yang tinggi, menawarkan kerja sama yang kemudian ditolak. Sebagai tanggapan, sekitar dua ratus tentara dikirim ke Labuh Gendang dan ketika negosiasi gagal, perang menjadi tak terelakkan. Pada saat itu, penguasa Besari mengumpulkan seluruh penduduk beserta harta benda mereka di pusat desa. Menurut legenda, ia melakukan ritual menggunakan air dalam tempurung kelapa, sembari merapalkan doa. Seketika itu juga, seluruh Besari menghilang, dan berubah menjadi hutan lebat. Konon, para penduduk tidak berubah menjadi roh atau jin, mereka tetap manusia, hanya saja kini hidup di alam gaib, sebuah dunia tak kasatmata. Dua tentara yang ditinggalkan di perbatasan konon mendengar suara misterius yang memerintahkan mereka untuk tetap tinggal dan mewariskan kisah desa yang hilang kepada generasi berikutnya.

Amiq Kholid menekankan bahwa terdapat bukti kuat yang mengonfirmasi keberadaan desa Besari. Artefak yang dikumpulkan menunjukkan bahwa masyarakat pada masa itu memiliki struktur administratif yang mapan, sistem keagamaan, dan tingkat budaya yang tinggi. Salah satu benda paling berharga adalah rompi milik penguasa Datu Besari, yang dilengkapi dengan 13 kancing yang melambangkan rukun salat dalam Islam.

Museum tersebut juga menyimpan lampu minyak kerajaan dengan lima sumbu, yang melambangkan lima rukun Islamyang menguatkan dugaan penduduk bahwa Besari merupakan komunitas Muslim.

Temuan lain yang tak kalah menarik adalah manuskrip yang ditulis di atas daun lontardan berisi nama-nama penguasa, sejarah kerajaan di Lombok, serta peta batas wilayahnya. Koleksi tersebut juga mencakup tempat tinta yang digunakan oleh sekretaris negara (Carika), alat-alat sunat kuno, gelang emas, dan uang kuno. Namun, hal yang paling menarik perhatian saya adalah papan Warige, yang digunakan untuk mempelajari astronomi dan mengamati bintang.

Situasi mistis – Besari tidak membiarkan dirinya dilupakan

Menurut cerita Bapak Sarihi, Amiq Kholid dan penduduk Genggelang, Besari tidak benar-benar menghilang. Sesekali desa ini mengingatkan manusia akan keberadaannya, seolah-olah sesaat menembus masuk ke dalam dunia kita. Momen-momen ini tidak dapat diprediksi dengan tepat, tetapi sering muncul dalam peristiwa-peristiwa yang tidak biasa. Salah satunya terjadi setelah gempa bumi di Lombok pada tahun 2018. Di dekat air terjun Kerta Gangga, tidak jauh dari lokasi yang diyakini sebagai tempat Besari berada, didirikan pos medis yang dijalankan oleh relawan dari Universitas Padjadjaran di Jawa. Pada malam hari, antara pukul 2 dini hari hingga fajar, mulai berdatangan pasien-pasien untuk berobat. Namun anehnya, keesokan harinya nama-nama pasien tersebut menghilang dari catatan. Dalam percakapan yang saya lakukan dengan Bapak Kadus Desa Genggelang, Bapak Sarihi, dia mengenang bahwa pada saat itu dia menerima telepon dari Jakarta yang mengeluhkan tentang kurangnya bantuan medis bagi warga desa, yang justru semakin memperdalam misteri seluruh situasi tersebut. Ketika dia bertanya kepada para relawan dari mana asal pasien-pasien tersebut para relawan selalu memberikan jawaban yang sama: dari Besari.

Kisah serupa juga dialami oleh seorang penjual tikar yang mendapati dirinya berada di desa yang ramai dan berhasil menjual seluruh barang dagangannya. Namun keesokan harinya, ia tersadar  bahwa tempat yang sama hanyalah sebuah hutan lebat dan sunyi.

Ami Kholid juga menyebutkan bahwa beberapa waktu lalu, sempat ada rencana untuk membangun masjid di lokasi desa Besari. Sebuah tim konstruksi datang dari Jawa, namun mereka tidak dapat menemukan tempat yang sebelumnya telah disepakati, seolah-olah tempat itu tidak pernah ada. Mereka pun berkemas dan kembali ke Jakarta.

Dari catatan lapangan antropologis…

Salah satu peristiwa terbaru yang berkaitan dengan kehadiran penduduk Besari adalah pemutaran film “Kesindungan”, yang menceritakan sejarah dan tradisi Genggelang serta upaya perlindungan terhadap keragaman budaya lokal. Produksi film ini melibatkan warga desa dan peran putri Besari - Dene Bini Lolar Sari- diperankan oleh aktris Bali. Berkat kerja sama dengan ECCO Foundation, saya memiliki kesempatan untuk menghadiri pemutaran pra-perdana film tersebut di pintu masuk air terjun Kerta GanggaLokasinya sangat asri, dikelilingi lembah hijau yang subur dan hamparan sawah. Malam itu adalah salah satu malam bulan Juli yang sempurna ketika panas siang hari perlahan larut dalam keheningan malam yang hangat dan tak bergerak. Suasanya semakin syahdu ketika ECCO Idea Choir membawakan lagu indah “Find Me”, sebuah komposisi tentang pencarian identitas dan relasi yang menekankan pada pentingnya komunitas.

Semakin larut malam, semakin banyak peserta yang datang. Saya dan anak-anak duduk di tanah sementara orang dewasa berkumpul di belakang, sembari berbincang dan mengamati jalannya acara. Penonton terlihat sangat antusias, terutama ketika wajah-wajah yang dikenal muncul di layar. Namun, pada saat adegan kunci yang menggambarkan pertemuan seorang gadis (yang tersesat ) dengan putri Besari disertai tarian dengan latar air terjun, tiba-tiba muncul hembusan angin yang sangat kuat. Butiran pasir mengusik semua penonton dan untuk sesaat mengalihkan perhatian kami dari film meskipun setelah pemutaran selesai, tepuk tangan meriah tetap diberikan, dan perayaan pun dimulai. Ucapan terima kasih, selamat, foto, makanan.

Karena saya sudah beberapa kali berada di Genggelang dan sempat tinggal di rumah kepala desa bersama keluarganya, saya tidak bisa menahan diri untuk menyapa warga dan mengucapkan selamat atas peristiwa yang begitu istimewa ini. Bapak Sarihi, kepala desa sekaligus penjaga hukum adat, selama seminggu penuh terus mengawasi kehidupan warga sehari-hari selama proses syuting yang memakan waktu tujuh hari penuh.. Sebagai pribadi yang tenang, ia tampak sangat terusik, seolah-olah sesuatu telah mengguncangnya secara mendalam. Saya merasakan bahwa perhatiannya sangat terpecah. Kami berpamitan dengan cukup tergesa, berjanji akan bertemu kembali dalam beberapa hari. Saat kami meninggalkan desa, kami melihat kerumunan warga di dekat masjid. Ricky, teman dan sopir kami, menurunkan jendela untuk bertanya apa yang terjadi dan mengapa semua orang berkumpul di sana, bukan di rumah  mengingat saat itu sudah lewat waktu maghrib, waktu petang yang menunjukan salat terakhir hari itu). Kami hanya menerima jawaban singkat dari salah satu warga agar tidak berhenti dan terus melanjutkan perjalanan. Sejujurnya, tidak satu pun dari kami di dalam mobil yang terlalu memperhatikan hal itu. Saya berpikir mungkin warga sedang mengadakan pertemuan kecil untuk merangkum hari yang intens ini dan penutupan syuting.

Setelah kembali ke Mataram, ketika saya dan Dewi, teman saya dari ECCO Foundation, sedang bersiap untuk tidur, Naya - guru bahasa Indonesia saya, mentor, sekaligus CEO English Lombok Club dan ECCO Foundation masuk ke kamar kami. Naya mengatakan bahwa dia tidak bisa menunggu sampai pagi untuk menyampaikan informasi ini. Suaminya, Hendra, salah satu koordinator utama proyek yang juga mengharuskan dia untuk tinggal di Genggelang lebih lama dari kami, telah meneleponnya dan menyampaikan sebuah pesan yang, menurutnya, terlalu penting untuk ditunda. Dari Naya kami mengetahui mengapa pada saat kami pergi hampir seluruh desa berkumpul di masjid…

Kami tidak tidur malam itu hingga pagi! Percakapan, cerita dan rasa tidak percaya seakan tidak ada habisnya. Pada akhirnya, menurut banyak cerita, ternyata kami tidak sendirian selama pemutaran film pada malam itu, penduduk Besari juga hadir…


Apa yang terjadi selama pemutaran film?

Menurut Bapak Sarihi, suasana yang tidak biasa sudah mulai terasa pada hari-hari sebelum pemutaran. Warga melaporkan mimpi tentang putri Besari dan juga ada laporan tentang penampakan harimau putih di sekitar lokasi syuting. Beberapa anggota tim workshop dari Jakarta merasakan kehadiran banyak orang dan perasaan diawasi, meskipun tidak ada saksi fisik. Seorang perempuan menceritakan bahwa ia melihat gerbang masuk desa yang sangat indah dengan hiasan ornamen yang memukai, padahal gerbang itu tidak pernah ada di dunia nyata. Sementara beberapa lainnya melihat orang-orang yang datang dengan menunggang kuda putih. Setelah proses syuting selesai, perasaan kehadiran itu tiba-tiba menghilang.

Selama pemutaran film, Bapak Sarihi memperhatikan bahwa jumlah penonton tampak lebih banyak dibandingkan awal acara, yang bertepatan dengan hembusan angin kuat secara tiba-tiba dan memunculkan rasa gelisah serta aura yang aneh dalam dirinya. Tidak lama setelah pemutaran selesai, dia menerima informasi bahwa kontak dengan salah satu peserta workshop yang menginap di hotel terdekat telah terputus. Sebagai respons, dia meminta warga berkumpul di masjid dan memanggil kembali mereka yang sudah meninggalkan desa (misalnya kami). Dalam penafsirannya, semua peristiwa mistis yang terjadi sebelumnya (gerbang emas, harimau putih, mimpi tentang kerajaan, dan angin kencang) merupakan bentuk ketidakpuasan Besari. Ketika warga berkumpul di masjid, Bapak Sarihi berdoa, membelah kelapa dan menyiramkan air ke tempat berkumpul. Dalam tindakannya, dia secara simbolis mengulangi situasi sekitar empat ratus tahun lalu, ketika Datu Besari, menghadapi ancaman pasukan Bali, mengumpulkan orang-orang di satu tempat untuk melindungi mereka dari bahaya. Dia kemudian meminta semua orang untuk tenang dan berdoa, lalu pergi membantu seorang perempuan yang pingsan…

Menurut beberapa kesaksian, pada saat itu suasana di masjid sangat dipenuhi kegelisahan. Warga merasa ada sesuatu yang tidak beres, terutama ketika kepala desa mulai dengan tergesa-gesa melakukan ritual dan memanggil semua orang untuk segera berkumpul di satu tempat. Setiap saksi menekankan bahwa mereka memiliki keyakinan kuat bahwa Besari berada di antara mereka dan mengekspresikan ketidakpuasan. Alasan utama diyakini adalah cara penggambaran putri dalam film. Disebutkan bahwa aktris yang memerankan tokoh tersebut berasal dari Bali, tempat yang menurut catatan sejarah menyerang Besari pada abad ke-17 dan berkontribusi pada hilangnya desa tersebut, serta kostumnya tidak mencerminkan realitas zaman itu. Alih-alih mengenakan kain kemben tradisional Sasak, dia mengenakan kostum yang menyerupai gaya Bali, yang dapat dianggap sebagai kurangnya penghormatan terhadap tradisi lokal.

Setelah menyelesaikan ritual, Bapak Sarihi bersama Hendra dan sopir pergi ke hotel. Menurut keterangan mereka, perempuan tersebut terbaring di tanah dan meskipun sadar, tidak merespons lingkungan sekitarnya. Dia menghindari tatapan kepala desa ketika diajak berbicara. Pada suatu titik, dia mungkin telah kerasukan.

Melihat apa yang terjadi, kemudian diputuskan untuk membawa gadis tersebut, meskipun dengan penolak ke air terjun Kerta Gangga, tepat di tempat yang sama di mana adegan tarian aktris Bali sebelumnya direkam.

Di lokasi, Bapak Sarihi kembali berdoa, membelah kelapa dan sebagai bentuk penebusan, memberikan persembahan berupa nasi kuning, bawang, dan telur. Ketika perempuan itu keluar dari mobil, dia langsung, seolah dipandu oleh kekuatan tak terlihat, berjalan menuju air terjun, secara tidak sadar meniru gerakan tarian yang dikenal dari film.

Tidak ada yang menghentikannya; para pria mengikutinya dari kejauhan, dengan hati-hati mengamati perilakunya. Tatapannya tetap kosong, kabur. Ketika ia mencapai jembatan kecil di dekat air terjun, dia tiba-tiba jatuh dan kemudian sadar kembali. Bapak Sarihi dan Hendra membantunya berdiri dan membawanya kembali ke mobil. Dia sepenuhnya sadar dan tidak mengingat bagaimana dia bisa berada di sana. Keesokan harinya, tanpa menunggu sarapan, perempuan itu dan timnya meninggalkan Genggelang. Atas saran kepala desa, dia kembali ke Bali melalui jalur laut, bukan pesawat. Menurut tradisi lokal, setelah mengalami kesurupan, seseorang harus menyeberang ke daratan seberang melalui sungai, danau, atau laut untuk secara simbolis membersihkan jiwa dan mencegah kejadian serupa terulang kembali.

Sementara itu, ketika Bapak Sarihi membantu perempuan tersebut di air terjun, warga Genggelang yang berkumpul menunggu kepulangannya di masjid dengan penuh ketidaksabaran. Peristiwa sepanjang hari, emosi yang menumpuk, serta perkembangan situasi yang tak terduga yang membuat mereka belum bisa pulang tidak membantu menenangkan suasana. Di tengah kebisingan, percakapan yang terus berlangsung dan pertukaran cerita, tiba-tiba salah satu perempuan jatuh dan kesadaran. Dia tidak sepenuhnya pingsan, tetapi pada saat yang sama tidak mungkin menjalin komunikasi logis dengannya. Dalam kekacauan dan kebisingan yang menyelimuti orang-orang yang berkumpul, sekali lagi malam itu kata “kesurupan”- possession- diucapkan.

Bapak Sarihi segera dihubungi dan setelah membawa perempuan tersebut dari air terjun, dia tiba di masjid. Seperti yang kemudian dia akui, peristiwa ini memiliki karakter yang lebih ringan dibandingkan kasus sebelumnya di air terjun. Menurut interpretasinya, “anak Besari” datang kepada perempuan muda itu, merasa bosan dengan percakapan orang dewasa dan hanya ingin bermain serta membuat lelucon kecil kepada warga. Bapak Sarihi mengatakan bahwa dia merasakan kehadirannya, seolah berada di punggungnya dan bahwa dia tidak membawa pesan tersembunyi atau ancaman, hanya keinginan untuk bermain. Setelah doa singkat bersama perempuan tersebut, di hadapan suami dan keluarganya, dia dibawa ke mobil dan dengan aman kembali ke rumah. Setelah peristiwa ini, Bapak Sarihi meminta semua warga untuk kembali ke rumah dan menahan diri untuk tidak keluar hingga fajar.

Apa sebenarnya kesurupan itu?

Dalam konteks budaya Indonesia, fenomena yang disebut sebagai kesurupan merujuk pada keadaan di mana tubuh dan kesadaran seseorang sementara waktu “dikuasai” oleh entitas dari luar dunia material. Ini bisa berupa roh leluhur, makhluk supranatural, energi suatu tempat atau entitas tak terlihat lainnya. Namun, hal ini tidak dipandang semata-mata sebagai sesuatu yang berbahaya atau patologis. Dalam banyak komunitas, kesurupan merupakan bagian dari sistem kosmologis yang lebih luas, di mana dunia manusia dan dunia tak terlihat hidup berdampingan dan saling berinteraksi. Dari perspektif antropologis, kesurupan dapat dipahami sebagai bentuk perubahan kesadaran, yang berakar pada konsep lokal tentang jiwa, tubuh dan hakikat realitas. Fenomena ini dapat terjadi secara spontan atau dipicu secara ritual dan maknanya bergantung pada konteks situasional. Dalam banyak kasus, orang tersebut kembali tanpa ingatan tentang apa yang terjadi. Sering kali diperlukan intervensi seseorang dengan otoritas spiritual, yaitu seorang dukun atau penjaga spiritual yang dipilih (Bapak Sarihi). Kesurupan di Indonesia adalah topik yang sangat menarik dan akan dibahas dalam artikel berikutnya.


Desa yang menghilang sebagai mitos kosmologis

Tidak diragukan lagi, peristiwa terbaru di Genggelang yang dapat saya amati secara langsung, serta cerita-cerita sebelumnya tentang misteri Besari, memberikan bukti yang jelas tentang betapa kuatnya identitas lokal terjalin dengan mitos kosmologis dalam arti luas. Simbolisme dunia tak terlihat, yang hadir dalam antropologi, mitologi dan kosmologi, merujuk pada keyakinan bahwa realitas tidak terbatas hanya pada apa yang bersifat material dan dapat ditangkap oleh indra. Terdapat dimensi paralel: spiritual, energetik, terkait dengan leluhur atau dewa, yang benar-benar memengaruhi kehidupan sehari-hari, meskipun tidak dapat dirasakan secara langsung. Ini bukan sekadar kepercayaan pada roh, melainkan cara yang jauh lebih luas dalam memahami hakikat realitas itu sendiri. Hubungan antara dunia yang terlihat dan yang tak terlihat sangat intens, karena kedua tatanan ini saling menembus dan terus berinteraksi satu sama lain.

Ritual seperti membelah kelapa, berdoa, atau memberikan persembahan tertentu (seperti yang dilakukan Bapak Sarihi dengan nasi, telur, dan bawang) berfungsi untuk mengatur hubungan antara manusia dan yang tak terlihat. Dalam konteks ini, kita dapat mengingat “theory of ritual” klasik oleh Victor Turner, yang menunjukkan pentingnya fase transisi (liminality) sebagai momen penangguhan antara dua tatanan (manusia dan yang tak terlihat). Justru dalam momen seperti inilah transformasi mendalam pada individu atau kelompok dapat terjadi yang secara simbolis tercermin, misalnya, dalam hembusan angin kuat saat pemutaran film.

Karena apa yang tak terlihat juga tidak dapat ditampilkan secara langsung, digunakanlah sistem tanda dan simbol. Tempat khusus ditempati oleh hewan seperti harimau putih atau arak-arakan berkuda yang mengamati kru film, yang berfungsi sebagai pemandu antara dunia dan penjaga manusia: hadir, namun tidak mengancam. Simbolisme warna juga sama pentingnya. Warna putih, yang hadir dalam citra harimau putih, menunjukkan kemurnian dan tidak adanya bahaya, tetapi juga ke-lain-an: sesuatu yang melampaui tatanan kehidupan sehari-hari dan menandakan kehadiran yang sakral (sacrum). Ruang juga memainkan peran penting: air terjun Gangga, laut atau hembusan angin kuat menjadi semacam jalur penghubung antara dunia atau desa (Genggelang – Besari), yang menunjukkan kontak dengan sesuatu yang lebih tinggi dan tak terlihat.

Tidak mungkin juga mengabaikan kategori aura. Dalam narasi Amiq Kholid maupun Bapak Sarihi, hal ini berulang kali disebut sebagai pengalaman akan kehadiran Besari yang dapat dirasakan. Seperti yang dicatat oleh antropolog Clifford Geertz, aura dapat dipahami sebagai realitas budaya yang mengadopsi sistem makna tertentu. Dalam pengertian ini, dia muncul baik sebagai sensasi individu maupun sebagai pengalaman bersama secara sosial tentang sesuatu yang lebih, sesuatu yang melampaui kehidupan sehari-hari. Aura Besari dengan demikian dapat berfungsi sebagai sinyal halus dari suatu peristiwa yang akan datang (seperti hembusan angin saat tarian putri Bali), yang muncul bahkan sebelum visi atau peristiwa konkret terjadi. Antropologi tidak begitu saja menolak keberadaan pengalaman semacam ini, melainkan berusaha memahaminya sebagai manifestasi makna. Pertanyaan utamanya bukanlah: “apakah aura itu ada?”, melainkan: “bagaimana pengalaman aura menjadi pembawa makna?”


Ontologi ganda: apakah dunia tak terlihat benar-benar ada?

Simbolisme dunia tak kasat mata membawa kita pada refleksi tentang sifat realitas yang berlapis-lapis. Pada titik ini, muncul konsep ontologi ganda. Ontologi, dalam pengertian antropologis, berkaitan dengan bagaimana budaya yang berbeda memahami apa yang ada dan bagaimana mereka mendefinisikan batas-batas realitas. Ia mengajukan pertanyaan mendasar: apakah dunia tak terlihat benar-benar ada? Dalam perspektif Barat, hal ini sering ditafsirkan sebagai ranah kepercayaan, sementara dalam banyak budaya tradisional ia merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari dunia.

Ontologi ganda menggambarkan cara memahami realitas di mana setidaknya dua tatanan keberadaan paralel hidup berdampingan dan keduanya diakui sebagai nyata. Dunia dengan demikian memiliki karakter ganda: material dan non-material dan kedua dimensi tersebut sama-sama nyata. Hubungan di antara keduanya membentuk sumbu cerita dalam teks ini dan menjadi kunci untuk memahami keterkaitannya. Hubungan ini dapat mengambil berbagai bentuk: Besari sebagai desa nyata dalam sejarah yang keberadaannya dibuktikan oleh manuskrip, dan sekaligus sebagai kehadiran spiritual yang muncul pada momen-momen tertentu, seperti saat pemutaran film atau ketika terjadi gempa bumi.

Perlu juga dicatat bahwa akses terhadap ontologi ganda ini tidak merata. Besari dapat menjadi tempat fisik sekaligus ruang spiritual, yang hanya dapat diakses oleh individu tertentu (seperti Amiq Kholid atau Pak Sarihi) yang mampu merasakan atau melihatnya. Mekanisme keterbukaan antara dunia ini memperkuat ikatan komunitas dan memungkinkan masyarakat menghadapi perubahan serta ketidakpastian. Oleh karena itu, ontologi ganda memiliki fungsi interpretatif yang penting: memungkinkan penjelasan terhadap fenomena yang sulit dipahami, mengintegrasikan pengalaman material dan spiritual, serta menciptakan gambaran realitas yang koheren, di mana bahkan hal-hal yang tampaknya tidak dapat dijelaskan menemukan tempat dan maknanya.

Previous
Previous

The lost village of Besari

Next
Next

Project ‘mobile library’